About Women

Oleh Angga

Berikut cerita terbaik dalam sayembara ini. Selamat buat Angga.
Yang masih nunggu Ninja, silahkan baca ini dulu. Ninjanya masih sembunyi…

About Women

“Pergaulan wanita adalah contoh nyata dari seleksi alam. Yang lemah akan tersingkir oleh yang kuat.”
“Wanita memiliki cara yang aneh dalam bergaul. Seorang wanita bisa membicarakan wanita lain dengan begitu buruk di belakangnya tetapi kemudian tersenyum riang ketika bertatap muka dengannya.”
“Wanita tidak akan mau berkorban demi kelompok. Bagi wanita, harga dirinya adalah nomor satu. Itu sebabnya kita jarang mendapati kelompok wanita yang berjumlah besar. Kelompok wanita paling banyak terdiri dari lima orang, dengan anggota yang berganti-ganti karena ketika seorang wanita dianggap tidak bernilai oleh kelompoknya, ia akan dikucilkan dan diganti oleh anggota yang baru. Kesimpulan: wanita adalah makhluk yang menyebalkan”
Andro mengakhiri khotbahnya dengan bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. Aku yang duduk di sebelahnya merespon dengan cibiran.
“Kau terdengar seperti seorang misogynist.”
“Berhenti menyebut pria misogynist. Aku seorang realis.”
Aku mengernyitkan dahi. “Oh ya? Realis?”
“Ya, aku seorang realis. Dan aku juga peka terhadap kehidupan sosial.”
Tawaku pecah. Andro menatapku dengan ekspresi kesal. Ia mungkin menyadari bahwa korelasi antara dirinya dan kehidupan sosial hampir tidak ada sama sekali. Andro tinggal bersama kakak laki-lakinya di sebuah rumah besar tanpa pembantu. Jika orang-orang yang bukan murid seperti Pak Tarjo tukang kebun sekolah dan Ibu kantin tidak dihitung, maka satu-satunya teman Andro di SMA hanya aku. Dan kini ia bicara tentang kehidupan sosial?
“Kalau kau realis, seharusnya kau menyadari bahwa kehidupan sosial tidak dapat mentolerir orang yang tidak punya teman sepertimu.”
Andro menyeringai. “Ya, aku lebih tahu dari siapapun.”
“Seseorang dianggap berpartisipasi dalam kehidupan sosial,” lanjutnya, “jika ia rela menukar nilai-nilai yang ia yakini dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Aku tidak bisa melakukannya.”
“……”
“Sebagai contoh, aku tidak meyakini bahwa hari ini, hari Valentine, patut untuk dirayakan. maksudku, lihatlah orang-orang di sekitar kita. Mereka adalah korban dari tradisi yang tidak punya akar yang kuat dan irrasional. ”
Aku tertawa. Ucapan Andro merefleksikan apa yang saat ini terjadi di sekitar kami. Saat ini kami sedang menikmati waktu istirahat di salah satu pojok halaman sekolah. Dari sini kami bisa melihat aktivitas para murid di jam istirahat. Aku menengok ke ujung koridor kelas. Di sana, terdapat segerombolan murid laki-laki dan perempuan, mengelilingi seorang murid laki-laki dengan wajah yang bersemu merah, menatap seorang murid perempuan yang terlihat malu-malu. Intuisiku mengatakan, murid pria itu akan mengatakan cinta kepada si murid wanita dan teman-temannya berkumpul untuk meledek mereka. Ah, indahnya masa muda, pikirku.
Andro melihat arlojinya lalu berkata. “Lima menit lagi jam istirahat habis. Kau tidak pergi juga?”
“Kemana?” tanyaku.
Andro berdecak. “Kelas 2F. Renata Mokoginta.”
Seketika jantungku berdegup cepat mendengar nama yang baru saja disebut Andro. Dengan cepat aku menyahut.
“Ma.. Maksudmu apa?”
“Katakan saja, meskipun aku terlihat tidak peka terhadap hal di sekitarku, aku bisa mengetahui bahwa coklat yang kau simpan di tasmu, yang terlihat olehku sewaktu tadi kita berangkat karena kau tidak menutup retsleting tasmu dengan benar, akan kau berikan kepada seseorang yang namanya telah kusebut.”
“Bukan begitu.. Coklat ini kubeli untuk kumakan sepulang sekolah.”
Andro menatapku tidak percaya. Aktingku pasti amat tak meyakinkan baginya karena wajahku mulai bersemu merah.
“Kau serius mau menyatakan perasaanmu hari ini? Ini bukan tentang Valentine kan?”
Aku menggeleng. Sepertinya sudah tidak ada alasan bagiku untuk terus menyembunyikan niatku pada sahabatku. Lagipula hampir semua murid di kelas tahu bahwa aku menyukai Renata sejak kelas 1. Terutama Andro. Aku selalu mengajaknya untuk membuntuti Renata ke kantin, mencari meja yang terdekat dengan mejanya supaya aku bisa melihatnya tertawa lepas bersama teman-temannya. Andro pula yang memberiku nomor Renata, karena setelah sekian lama ia baru memberitahuku bahwa ia dan Renata teman satu kelas di lembaga bimbingan belajar. Meskipun pada akhirnya aku tak punya keberanian untuk mengirim pesan pada Renata dan nomornya hanya tersimpan di kontak ponselku. Kurasa akhirnya aku berani untuk menyampaikan perasaanku padanya karena hari ini adalah Valentine. Sebagian besar dari kami menganggapnya sebagai momen yang paling tepat dalam satu tahun untuk mengungkapkan rasa suka terhadap lain jenis. Kurasa keberanianku bertambah ketika kemarin beberapa teman sekelasku bercerita untuk menyampaikan perasaannya pada wanita yang ia suka. Kurasa hari ini akhirnya aku siap bicara dengan Renata.
Atau semacamnya..
“Lupakan. Sepertinya aku hanya ingin memberinya coklat untuk… Kau tahu, mengajaknya untuk menjadi teman.” ujarku dengan senyum yang dipaksakan.
Andro mengangkat bahunya. “Terserah. Aku hanya bertanya.” ujarnya.
Untuk beberapa saat kami terdiam, hingga kemudian Andro bangkit dari tempat duduknya. “Aku baru ingat belum mengambil absen untuk pelajaran berikutnya. Hari ini aku petugas piket!” serunya.
“Kalau begitu ambillah.” ujarku. Andro mengangguk lalu segera berjalan cepat menuju ruang Tata Usaha, meninggalkanku yang kini duduk sendirian menatap langit yang cerah tanpa satupun awan.
Sesekali terdengar ledekan dari para murid yang bergerombol di ujung koridor kelas.
••••
Sepulang sekolah, aku dan Andro berjalan beriringan menyusuri trotoar di jalan raya yang ramai. Setelah beberapa lama berjalan, kami melewati lingkungan kompleks dengan rumah-rumah yang rapat berjajar di kanan dan kiri. Aku menyadari bahwa sejak jam istirahat, Andro menjadi lebih pendiam. Ia bahkan tak berbicara kepadaku ketika perjalanan pulang seperti yang selama ini telah kami lakukan dalam dua tahun.
“Ada yang kau pikirkan, Ndro?”
Andro terkejut mendengar pertanyaanku, kemudian menggeleng cepat. “Tidak,” jawabnya.
Kami sampai di sebuah persimpangan jalan. Jalan menuju rumah Andro berada di sebelah kiri persimpangan dan jalan menuju rumahku di sebelah kanan. Seperti biasa saat perjalanan pulang kami, di persimpangan ini kami berpisah.
“Hilmi.” ujar Andro.
“Ya?”
“Tentang ucapanku sewaktu jam istirahat tentang wanita. Sepertinya aku tidak mengerti yang aku bicarakan.”
“Maksudmu?”
Andro menggeleng. “Tidak, lupakan. Sampai bertemu besok.”
Setelah mengucapkan salam perpisahan, Andro melambaikan tangannya, lalu berjalan ke arah kiri persimpangan.
Untuk beberapa saat aku terdiam.
Menunggu hingga punggung Andro tak lagi terlihat olehku.
Sebetulnya, aku mengerti betul apa yang ia maksud.
Karena tak beberapa lama setelah Andro meninggalkanku untuk mengambil daftar absen, aku juga pergi. Tujuanku? Kelas 2F. Kelas Renata.
Setelah diberi tahu oleh salah seorang temannya bahwa ia terakhir kali melihat Renata di depan kelas 2A, kelasku sendiri, aku segera bergegas menuju tempat yang di maksud.
Namun sebelum aku masuk ke kelas, aku mendengar sebuah suara yang familiar. Suara seseorang yang jika melihat senyumnya saja membuatku susah tidur selama berhari-hari. Suara seseorang yang jika namanya disebut akan membuat jantungku berdetak lebih cepat dua kali dari biasanya.
“Hei, datang juga.”
Aku terkejut luar biasa. Kuurungkan niatku untuk masuk ke dalam kelas yang begitu sepi dan hanya berisi dua orang di dalamnya. Aku berdiri mematung di balik pintu.
“Rena-chan. Kamu sedang apa di sini sendirian?” ujar seseorang dengan suara yang begitu aku kenal. Suara seseorang yang menjadi sahabatku selama dua tahun ini.
Andro.
Fakta bahwa ia memanggil Renata dengan sebutan Rena-chan membuat hatiku terasa seperti tersulut. Sebenarnya sedekat apa mereka berdua?
“Salah seorang temanmu dengan berbaik hati membolehkan aku meminjam ruang kelas untuk kugunakan selama lima menit dengan jaminan tidak ada teman sekelasmu yang akan masuk ke ruang kelas. Selain itu sebagian besar murid di kelasmu ada di halaman.”
“Kedengarannya seperti skenario di film tenang serial killer bagiku.”
Aku tersenyum menyeringai mendengar ucapan Andro. Selera humor Andro tidak mungkin bertambah baik meskipun di depannya berdiri salah seorang perempuan tercantik yang pernah kulihat seumur hidupku.
Tapi meminjam ruang kelas? Lima menit? Dan aku tidak tahu hal semacam itu meskipun ini juga kelasku?
“Andro-kun, aku ingin mengatakan sesuatu..”
Terdapat jeda yang cukup lama di sana, dan begitu hening. Yang terdengar hanya detak jarum jam dinding yang tergantung di atas papan tulis dan suara detak jantungku sendiri yang menjadi tak beraturan.
Sial..
“Aku suka pada Andro-kun.”
Bersamaan dengan itu, aku merasakan gelegak kemarahan yang menjalar naik hingga ke ubun-ubunku. Aku tidak peduli semerah apa wajahku saat itu.
“Aku ingin Andro-kun jadi pacarku. Aku suka Andro-kun sejak kelas 1, sejak kita sekelas di tempat bimbel yang sama.”
“Aku kagum dengan Andro-kun yang pintar dan pendiam.”
Saat itu aku benar-benar ingin berteriak.
“Maaf, aku tidak bisa.”
Eh?
“Aku bukan orang yang tepat untuk menjadi pacarmu. Aku bukan murid yang populer, bahkan temanku hanya satu di sekolah. Aku juga tidak terlalu peduli dengan kehidupan sosial atau drama yang terjadi di sekolah.”
“Aku percaya kalau ada orang lain yang lebih tepat untukmu. Orang yang tidak seperti aku, akan menyayangimu. Orang yang akan rela berkorban untuk menjaga perasaanmu. Dan orang itu sudah pasti bukan aku.”
”…….”
Tercipta keheningan yang lebih lama dari yang pertama. Hingga akhirnya sebuah suara lembut memcah kebisuan.
“Aku bisa menerima keputusanmu, Andro-kun.”
“Syukurlah.”
Aku mendengar sebuah isakan kecil dari dalam ruang kelas. Renata Mokoginta, perempuan yang aku suka, menangis. Tak terbayangkan perasaanku pada saat itu.
Kejadian sewaktu jam istirahat tadi terpampang di otakku bagaikan siaran ulang dari sebuah kaset rekaman. Tak terasa aku berdiri di persimpangan selama lima menit lebih.
Aku tersenyum. Andro telah mengajarkan suatu hal yang berharga padaku hari ini. Dan untuk seumur hidupku, aku akan memandang sahabatku itu dengan pandangan yang sama sekali berbeda dari yang dulu.
TAMAT

comments:

-dhachan_kun : Yah, ini agak mirip BL sih tapi bagus…

-sgtrudolfs : menikmati sekali ceritanya.. sampai pada bagian ngomong “chan” dan “kun” di situ kadang saya merasa mual 😀

12 gagasan untuk “About Women

  1. jarang nie, ada yang memilih persahabatan diatas cinta..apalagi saat masa sekolah..bener2 sahabat sejati..pantas untuk jadi juara 1..
    sisi kejutannya juga ada, sama seperti yang juara 2

  2. Openingnya saya sukaaa…. Tapi setelah ketengah akhirnya endingnya kebaca… imo..
    Meski pengalaman pribadi ataupun fiksi tapi bagus kok, mungkin selera orang berbeda2…
    ^_^

    7/10

  3. akhirnya dimuat, thanks madesu 😀
    anoo.. mengenai prosedur pengiriman hadiah ke para pemenang itu apa sajakah?

    • Rencana hadiahnya akan dikirim ke alamat sesuai di biodata singkat yang peserta kirimkan berama dengan naskahnya.

      (dan karena sesuatu dan lain hal, hadiahnya baru siap kira2 akhir pekan minggu ini)

      • setelah diperhatikan, semua peserta tidak mencantumkan kodepos. Dan hanya 2 peserta yang mencantumkan nomor telp.

        Jadi nanti akan saya hubungi melalui email…

  4. Ceritnya bagus nih…
    mengutamakan persahabatan di atas cinta…
    kebetulan pernah ngalamin sendiri pas jaman SMA, memilih temen2 atau cinta…
    hehehehe…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

robot shall not pass *